Stasiun Jakarta Kota, Karya Anak Tulungagung Cita Rasa Eropa

Oct05

Stasiun Jakarta Kota, Karya Anak Tulungagung Cita Rasa Eropa

Takes Hotel

Stasiun Jakarta Kota, di era 1980 masyarakat sekitar sering menyebutnya stasiun Beos, sebuah bangunan klasik yang masih aktif hingga sekarang. Betapa tidak, nyaris semua bangunan di tempat ini masih dipertahankan dengan gaya Eropa Art Deco Style, ciri khas bangunan di Eropa yang tengah menjadi tren pada awal abad 20.

Stasiun Jakarta Kota merupakan stasiun kereta api terbesar di Indonesia yang terletak di Kelurahan Pinangsia, kawasan Kota Tua, Jakarta, IndonesiaLantas mengapa disebut Beos?

Yang pertama, Beos kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh atau dalam bahasa Inggris disebut Batavia Eastern Railway.  

Yang kedua, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, yang berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain sepertiBekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.

Ide pembuatan Stasiun Jakarta Kota yang telah berumur lebih dari 100 tahun ini karena Batavia sebutan Jakarta ketika itu tengah menjadi suatu kota yang berkembang. Kawasan Jakarta Kota adalah kawasan bisnis ekslusif. Karenanya membutuhkan sebuah stasiun kereta api yang besar seperti di kota-kota negara Eropa.

Maka dari itu terlihat dari bangunan Stasiun Jakarta Kota yang berkarakter Eropa Art Deco Style, ciri khas bangunan di Eropa yang tengah menjadi tren pada awal abad 20.

Pembangunan tersebut diarsiteki orang Belanda kelahiran Tulungagung 8 September 1882, yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels. Stasiun Beos merupakan karya Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat.

Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan.

Dalam perjalanannya, Stasiun Jakarta Kota akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993. Hingga kini masih melayani kebutuhan warga Jakarta pengguna kereta api.

Cukup mudah mengunjungi Stasiun Jakarta Kota dari Take's Mansion and Hotel. Dari Take’s Mansion & Hotel, kamu jalan ke halte busway BI sekitar 600 meter. Setelah itu kamu naik busway menuju arah Halte/Stasiun Jakarta Kota. Mudah kan?

 

(rdw)